IBADAH INKLUSI: GEREJA YANG TERBUKA BAGI SEMUA
IBADAH INKLUSI: GEREJA YANG TERBUKA BAGI SEMUA
Gereja dipanggil menjadi rumah kasih Allah yang terbuka bagi semua orang tanpa terkecuali, tempat setiap pribadi diterima, dilibatkan, dan dihargai dalam persekutuan. Dalam semangat itulah ibadah inklusi dihadirkan, sebagai wujud nyata gereja yang tidak meninggalkan seorang pun, melainkan berjalan bersama dalam berkat dan panggilan Tuhan. Ibadah inklusi dilaksanakan di GKPS Rambung Merah pada Minggu, 8 Februari 2025 bertepatan dengan Panggalangon sa-GKPS untuk RBM GKPS. Ibadah ini dilaksanakan dua kali, pagi dan siang, sebagai bagian dari program pelayanan Yayasan Idop ni Uhur (YI) yang secara konsisten menghadirkan ibadah inklusi tiga kali dalam setahun sebagai wujud gereja yang merangkul semua.
Firman Tuhan dalam Ibadah pagi dilayani oleh Pdt. Donna Saragih (Sekretaris Yayasan) dan ibadah siang oleh Pdt. Edi Jasin Saragih (Ketua Yayasan). Melalui pemberitaan Firman Tuhan ditegaskan bahwa setiap orang tanpa terkecuali diberkati dan dipanggil menjadi berkat, sebab panggilan Allah berakar pada kasih-Nya, bukan pada kelengkapan atau kesempurnaan manusia. Seperti Abraham yang melangkah dalam iman menuju rancangan Allah, demikian pula setiap jemaat, termasuk penyandang disabilitas dan lansia dipanggil berjalan dalam janji Tuhan di tengah segala keterbatasan; karena itu gereja diingatkan untuk melihat semua orang sebagai subjek yang diberkati dan diutus menjadi berkat bagi sesama dan dunia.
Ibadah ini dihadiri oleh anak sekolah minggu, remaja, pemuda, bapa-inang, dan lansia. Dalam tata ibadah inklusi, anak-anak disabilitas dan remaja turut membaca ayat bacaan (epistel), sementara lansia membaca ayat pengganti hukum Taurat, sebagai tanda bahwa ibadah ini melibatkan semua dan menegaskan bahwa setiap orang mampu berpartisipasi dalam pelayanan. Beberapa anak remaja dan penyandang disabilitas turut serta sebagai penerima tamu dalam ibadah. Sepanjang ibadah juga hadir juru bahasa isyarat (JBI), sehingga jemaat tuli (tuna rungu) dapat memahami dan menikmati seluruh rangkaian ibadah dengan penuh sukacita. Dalam ibadah tersebut juga diadakan pemberian tanda kasih dari Yayasan Idop ni Uhur berupa syal tanda persahabatan, yang merupakan hasil karya teman-teman tuli di YI. Tanda kasih ini diserahkan kepada Pendeta Resort, anggota Sidang Sinode Bolon, serta Pimpinan Majelis Jemaat GKPS Rambung Merah.
Setelah ibadah selesai, dilaksanakan kegiatan belajar bahasa isyarat yang dipandu oleh teman-teman tuli dari YI. Anak-anak sekolah minggu dan remaja diajak belajar sejak dini untuk berbaur, memahami, dan bersahabat dengan saudara-saudari disabilitas. Selain itu, tersedia pelayanan kinesioterapi dari Jabu Sehat berupa pemeriksaan kesehatan otot dan sendi, khususnya bagi para lansia, sebagai bentuk perhatian gereja terhadap kesehatan dan kesejahteraan jemaat.
Seluruh rangkaian ibadah berlangsung dengan sangat baik dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube RBM GKPS, sehingga semakin banyak jemaat dapat ikut merasakan semangat kebersamaan ini. Melalui ibadah inklusi ini, ditegaskan kembali bahwa gereja adalah rumah yang terbuka bagi semua, gereja yang tidak meninggalkan seorang pun. Gereja yang telah diberkati dipanggil untuk menjadi berkat bagi seluruh anggota jemaat dalam keberagaman, sebab keterbatasan bukanlah penghambat; bersama dalam kasih Tuhan, kita dapat berjalan dan melayani bersama.
Pdt. Donna Saragih
Sekretaris Yayasan Idop ni Uhur GKPS
Diposting 08 Februari 2026 oleh vivi | Gereja Inklusi