Bersama Mewujudkan Sekolah Inklusi
SEKOLAH UNTUK SEMUA ANAK
Kolaborasi Yayasan Pendidikan GKPS dan Yayasan Idop ni Uhur GKPS
dalam Mempersiapkan Sekolah Inklusi
SD GKPS Rambung Merah Menuju Sekolah Inklusi
Pada Senin, 12 Januari 2026, Yayasan Pendidikan (YP) GKPS dan Yayasan Idop ni Uhur (YI) GKPS mengadakan pertemuan di SD GKPS Rambung Merah untuk membahas langkah awal pengembangan sekolah inklusi. Pertemuan ini menegaskan komitmen gereja bahwa setiap anak berhak menerima pendidikan yang layak, termasuk anak berkebutuhan khusus/ penyandang disabilitas. Sekretaris YP GKPS, Pdt. Jhon Martin Damanik, membuka pertemuan dengan menyampaikan kesiapan sekolah untuk memulai proses ini melalui kerja sama dengan YI GKPS. Dari pihak sekolah disampaikan bahwa saat ini terdapat 8 anak berkebutuhan khusus yang sedang bersekolah di SD GKPS Rambung Merah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan inklusif bukan lagi sekadar rencana, tetapi sudah menjadi kebutuhan nyata.
Ketua YI GKPS, Pdt. Edi Jasin Saragih, memperkenalkan pelayanan YI yang berlandaskan prinsip inklusi, yaitu keterbukaan dan penerimaan terhadap semua orang tanpa kecuali. Melalui prinsip ini, YI mendorong agar gereja dan sekolah GKPS menjadi ruang yang menerima, melindungi, dan mengembangkan setiap anak sesuai martabatnya sebagai ciptaan Allah. Tahun ini, YI memulai diskusi dan pendampingan dengan dua sekolah GKPS untuk pengembangan sekolah inklusi. SD GKPS Rambung Merah diharapkan menjadi salah satu sekolah percontohan (pilot project) yang memberi nilai tambah bagi pelayanan pendidikan GKPS.
Dalam kerja sama ini, YI GKPS akan berperan dalam: mendorong dan mengedukasi sekolah, melakukan pendampingan, menyelenggarakan pelatihan, menyediakan narasumber dan fasilitator inklusi, serta melakukan monitoring dan evaluasi. Sementara itu, SD GKPS Rambung Merah berkomitmen pada: kepemimpinan yang berpihak pada inklusi, penyelenggaraan pembelajaran inklusif, penyediaan lingkungan ramah disabilitas, peningkatan kompetensi guru, serta kerja sama dengan orang tua dan lembaga disabilitas.
Dalam diskusi, para guru dan pimpinan sekolah mengajukan berbagai pertanyaan tentang bagaimana sekolah inklusi akan dijalankan, sekaligus menekankan pentingnya arah, strategi, dan persiapan yang jelas. Kepala sekolah menegaskan visinya untuk menjadikan SD GKPS Rambung Merah sebagai sekolah inklusi, sambil menyadari perlunya pemahaman dan kesiapan yang bertahap. Pdt. Edi Jasin Saragih menegaskan bahwa dasar utama dari sekolah inklusi adalah kesamaan visi dan perubahan cara pandang. Inklusi bukan hanya soal fasilitas, tetapi tentang bagaimana gereja dan sekolah memandang anak berkebutuhan khusus sebagai bagian penuh dari komunitas.
Sebagai langkah awal, pertemuan ini menyepakati dua keputusan penting: Delapan anak berkebutuhan khusus akan menjalani asesmen psikologis dan intervensi dini anak melalui kerja sama YI GKPS dan SD GKPS Rambung Merah serta pelatihan guru tentang pendidikan inklusif akan segera dilaksanakan.
Sebuah Langkah Iman
Kolaborasi antara YP GKPS dan YI GKPS ini bukan sekadar program pendidikan, melainkan perwujudan iman GKPS yang percaya bahwa setiap anak adalah ciptaan Allah yang berharga. Sekolah inklusi tidak berarti menurunkan standar, tetapi justru meninggikan martabat manusia dengan memberi ruang bagi setiap anak untuk belajar dan bertumbuh sesuai kebutuhannya. Melalui kolaborasi ini, SD GKPS Rambung Merah sedang menapaki jalan baru: menjadi sekolah yang bukan hanya mengajar, tetapi juga menerima, memahami, dan memberdayakan setiap anak. Disanalah kasih Allah dihadirkan secara nyata dalam dunia pendidikan, agar tidak ada satu pun anak yang tertinggal, dan melalui keberagaman anak-anak-Nya, Allah dimuliakan.
Pengurus Yayasan Idop Ni Uhur GKPS
Diposting 13 Januari 2026 oleh Pdt. Edi Jasin Saragih | Pendidikan